Mengenai Saya

Senin, 22 Juni 2009

sesuatu yang hilang


Sungguh hari ini aku terserang rasa kantuk yang berat. Sehabis shalat shubuh, tak sanggup aku menahan kantukku. Aku berbaring di kamarku, tapi sepertinya ada sebuah perasaan dan cita yang berontak kepadaku. Lalu memintaku untuk segera bangun, apa ya? Pikirku. Tak lama kemudian aku berpindah dari kamar menuju ruang tamu, juga berbaring di kursi sofa. Tiba-tiba aku tersadar, aku harus segera bersiap mengikuti kompetisi karya tulis mahasiswa tingkat Unhalu 2009. tak kuhiraukan lagi rasa kantuk. “aku harus semangat…Allahu akbar!” seruku dalam hati.

Aku harus terus berkarya, mengejar cita-cita, harus kutunjukkan kepada dunia bahwa generasi muda muslim itu bisa berprestasi. Tak peduli atas kemiskinan dan penderitaan yang juga kurasakan kini, mungkin sebagian rekan-rekanku yang lain juga merasakannya. Sungguh sahabat… energi keimanan dan keislaman telah merubahku menjadi mahasiswa yang harus optimis dan percaya diri menghadapi seluruh tantangan hidup ini apapun kondisinya. Walaupun ayah, bunda dan keluargaku yang lain jauh disana…di kampung halaman. Adik kembarku juga sama bermimpi bersama detak dan detik waktu mengejar cita. Alhamdulillah ya Allah…Engkau anugerahi aku keluarga dan sahabat yang selalu memberikan spirit untuk mengarungi samudera kehidupan yang fana ini. Kutahu mereka sayang padaku dan aku harus sukses! Harus!!

Kang Abik, penulis buku “Ayat-Ayat Cinta” ketika datang ke Kendari pernah bilang kepadaku dan dua rekanku “teruslah mencoba! Perkaya diri dengan membaca dan menulis, tapi ingat sabar dan ikhlas karena Allah adalah kuncinya”. Sahabat…tahukah betapa semangatnya aku hari itu menghadapi kompetisi. Sampai-sampai ketika pake sepatu pun “obsesi punya pengalaman baru” terus berbicara dalam pikir dan perasaanku. Kudekati motorku, kuletakkan map beserta isinya di jepitan motor. Kuperbaiki jaket yang belum teratur di badanku. Kutengok kaca spion, kuperbaiki rambut ikal pemberian Sang Pencipta ini. Namun tiba-tiba mapku melayang jatuh, sejurus aku terkejut, “mati mi!”. isi mapku berserakan di tanah termasuk karya tulis yang sedikit kotor terkena tanah. “Alhamdulillah nggak apa-apa” pikirku sambil kubersihkan tanah yang menempel.

Dalam perjalanan menuju Haluoleo, kampus dimana sejuta harapan mahasiswa sepertiku belajar, pikiran, imajinasi dan asa terus berbicara ditemani waktu yang hanya 24 jam sehari ini. Sesampainya di Rektorat, kusapa rekan se-timku “Assalamualaikum! Gimana udah mulai?. Ia menjawab “Belum, lagian pembukaannya jam 9”. Sambil berlalu aku berucap “kalau gitu, saya duluan ke atas ya”.

Beberapa menit berselang pembukaan dimulai. Lalu kami dipersilakan menuju ruangan sesuai bidang kompetisi masing-masing. Aku segera mengumpulkan rekan-rekan tim FKIP, “kita adalah tim, mari kita tunjukkan bahwa FKIP bisa berhasil dalam kompetisi ini. Jangan lupa saling mendoakan, okey!”. Saat itu aku optimis bahwa rekan-rekan dapat menunjukan yang terbaik dalam ajang ini.

Kami mendapat giliran tampil urutan ketiga dibelakang dua sahabatku yang juga dari FKIP. Entah kenapa hatiku berdebar-debar saat itu, mungkin peserta lain pun merasakan hal yang sama. Presentasi pun dimulai, dewan juri memberi kami waktu 5 menit, aku jadi operator sedang temanku presentasi. 5 menit berlalu, presentasi usai, giliran sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama bisa kami jawab dan mendapat apresiasi yang baik dari dewan juri.

Allah subhnahu wata’ala sungguh maha besar. Dia memberikan cinta-Nya kepada kami melalui kumandang adzan yang tiba-tiba kami dengar dari musholla rektorat. Sejuk sekali rasanya qolbu ini, memberi energi semangat kepada kami, “Harus Bisa!!!” itulah slogan yang terlintas dibenakku. “Laailaahaillallaah… “ inilah energi besar yang semestinya terus kita ingat dimana dan sampai kapan pun. Saudaraku… momen hidup ini sungguh begitu berarti bagi kita. Jangan pernah sia-siakan walau itu hanya sedetik…kemarin adalah masa lalu kita, jangan dan jangan terus meratapi masa lalu. Esok adalah masa depan dan impian, pantang bagiku termasuk engkau wahai saudaraku…menunggu masa depan. Wal khusus hari ini, kita masih hidup…disini…di dunia ini, tak maukah engkau wahai saudaraku ‘tuk saling menyapa, bahagia ketika bersua dan mengukir waktu dengan karya. Ya karya! Apa pun itu yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat Islam terutama mahasiswa kampus hijau FKIP Unhalu.

Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan, menghakimi, bahkan mencaci. Tapi mengingatkan dengan warna cinta-Nya layak dipertahankan pada kondisi kita sekarang ini. Aku optimis wahai saudara… engkau pasti bisa berbuat yang terbaik untuk dakwah Islam ini. Ustadz Fauzil Adzhim pun meyapa kita dihari ini “Jadikanlah masalah sebagai tantangan, bukan sebagai hambatan, betul-tidak?”. Bersemangatlah kawan! keluh kesah sungguh tak berguna…camkanlah: “engkau adalah mujahid dan mujahidah muda harapan Islam! Aktivis Dakwah Kampus adalah profesi mulia kita saat ini dan sampai kapanpun”. Insyaallah…wallahu ‘alam.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rumah pelangi,

Rabu 6 Mei 2009

Salam hangat dariku,


alif al syahban

mahasiswa FISIP Unhalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar