Mengenai Saya

Senin, 22 Juni 2009

Sungguh hari ini aku terserang rasa kantuk yang berat. Sehabis shalat shubuh, tak sanggup aku menahan kantukku. Aku berbaring di kamarku, tapi sepertinya ada sebuah perasaan dan cita yang berontak kepadaku. Lalu memintaku untuk segera bangun, apa ya? Pikirku. Tak lama kemudian aku berpindah dari kamar menuju ruang tamu, juga berbaring di kursi sofa. Tiba-tiba aku tersadar, aku harus segera bersiap mengikuti kompetisi karya tulis mahasiswa tingkat Unhalu 2009. tak kuhiraukan lagi rasa kantuk. “aku harus semangat…Allahu akbar!” seruku dalam hati.

Aku harus terus berkarya, mengejar cita-cita, harus kutunjukkan kepada dunia bahwa generasi muda muslim itu bisa berprestasi. Tak peduli atas kemiskinan dan penderitaan yang juga kurasakan kini, mungkin sebagian rekan-rekanku yang lain juga merasakannya. Sungguh sahabat… energi keimanan dan keislaman telah merubahku menjadi mahasiswa yang harus optimis dan percaya diri menghadapi seluruh tantangan hidup ini apapun kondisinya. Walaupun ayah, bunda dan keluargaku yang lain jauh disana…di kampung halaman. Adik kembarku juga sama bermimpi bersama detak dan detik waktu mengejar cita. Alhamdulillah ya Allah…Engkau anugerahi aku keluarga dan sahabat yang selalu memberikan spirit untuk mengarungi samudera kehidupan yang fana ini. Kutahu mereka sayang padaku dan aku harus sukses! Harus!!

Kang Abik, penulis buku “Ayat-Ayat Cinta” ketika datang ke Kendari pernah bilang kepadaku dan dua rekanku “teruslah mencoba! Perkaya diri dengan membaca dan menulis, tapi ingat sabar dan ikhlas karena Allah adalah kuncinya”. Sahabat…tahukah betapa semangatnya aku hari itu menghadapi kompetisi. Sampai-sampai ketika pake sepatu pun “obsesi punya pengalaman baru” terus berbicara dalam pikir dan perasaanku. Kudekati motorku, kuletakkan map beserta isinya di jepitan motor. Kuperbaiki jaket yang belum teratur di badanku. Kutengok kaca spion, kuperbaiki rambut ikal pemberian Sang Pencipta ini. Namun tiba-tiba mapku melayang jatuh, sejurus aku terkejut, “mati mi!”. isi mapku berserakan di tanah termasuk karya tulis yang sedikit kotor terkena tanah. “Alhamdulillah nggak apa-apa” pikirku sambil kubersihkan tanah yang menempel.

Dalam perjalanan menuju Haluoleo, kampus dimana sejuta harapan mahasiswa sepertiku belajar, pikiran, imajinasi dan asa terus berbicara ditemani waktu yang hanya 24 jam sehari ini. Sesampainya di Rektorat, kusapa rekan se-timku “Assalamualaikum! Gimana udah mulai?. Ia menjawab “Belum, lagian pembukaannya jam 9”. Sambil berlalu aku berucap “kalau gitu, saya duluan ke atas ya”.

Beberapa menit berselang pembukaan dimulai. Lalu kami dipersilakan menuju ruangan sesuai bidang kompetisi masing-masing. Aku segera mengumpulkan rekan-rekan tim FKIP, “kita adalah tim, mari kita tunjukkan bahwa FKIP bisa berhasil dalam kompetisi ini. Jangan lupa saling mendoakan, okey!”. Saat itu aku optimis bahwa rekan-rekan dapat menunjukan yang terbaik dalam ajang ini.

Kami mendapat giliran tampil urutan ketiga dibelakang dua sahabatku yang juga dari FKIP. Entah kenapa hatiku berdebar-debar saat itu, mungkin peserta lain pun merasakan hal yang sama. Presentasi pun dimulai, dewan juri memberi kami waktu 5 menit, aku jadi operator sedang temanku presentasi. 5 menit berlalu, presentasi usai, giliran sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama bisa kami jawab dan mendapat apresiasi yang baik dari dewan juri.

Allah subhnahu wata’ala sungguh maha besar. Dia memberikan cinta-Nya kepada kami melalui kumandang adzan yang tiba-tiba kami dengar dari musholla rektorat. Sejuk sekali rasanya qolbu ini, memberi energi semangat kepada kami, “Harus Bisa!!!” itulah slogan yang terlintas dibenakku. “Laailaahaillallaah… “ inilah energi besar yang semestinya terus kita ingat dimana dan sampai kapan pun. Saudaraku… momen hidup ini sungguh begitu berarti bagi kita. Jangan pernah sia-siakan walau itu hanya sedetik…kemarin adalah masa lalu kita, jangan dan jangan terus meratapi masa lalu. Esok adalah masa depan dan impian, pantang bagiku termasuk engkau wahai saudaraku…menunggu masa depan. Wal khusus hari ini, kita masih hidup…disini…di dunia ini, tak maukah engkau wahai saudaraku ‘tuk saling menyapa, bahagia ketika bersua dan mengukir waktu dengan karya. Ya karya! Apa pun itu yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat Islam terutama mahasiswa kampus hijau FKIP Unhalu.

Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan, menghakimi, bahkan mencaci. Tapi mengingatkan dengan warna cinta-Nya layak dipertahankan pada kondisi kita sekarang ini. Aku optimis wahai saudara… engkau pasti bisa berbuat yang terbaik untuk dakwah Islam ini. Ustadz Fauzil Adzhim pun meyapa kita dihari ini “Jadikanlah masalah sebagai tantangan, bukan sebagai hambatan, betul-tidak?”. Bersemangatlah kawan! keluh kesah sungguh tak berguna…camkanlah: “engkau adalah mujahid dan mujahidah muda harapan Islam! Aktivis Dakwah Kampus adalah profesi mulia kita saat ini dan sampai kapanpun”. Insyaallah…wallahu ‘alam.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

केतिका दिया


Bagian 2

“Adakah asa yang dapat membawaku kembali bersua dengan kisah hidupku di masa lalu…?” demikianlah sebuah pertanyaan kecil yang tergerak dalam hatiku kini. Alunan ayat Al-Qur’an yang kudengar terus membawaku kembali bercerita tentang detak dan detik waktu yang terlewati laksana aliran air di telaga harapan. Masih kuingat jelas, aku saat itu adalah anak manja yang selalu minta ini dan itu kepada ayah dan bundaku. Setiap akhir pekan ibu mengajakku dan kedua adik kembarku jalan-jalan. Kadang kala ke tempat wisata seperti kebun binatang, berkles atau seringnya ke games center. Pokoknya keceriaan selalu membersamaiku. Ibu biasanya menuntun kami bertiga, menjadi teman bermain, bercanda dalam suka dan duka. “Nto, gimana kalau kita makan bubur dulu, yuk!” kata ibuku suatu ketika. Bagi kami warga metro Bandung, kuliner adalah pilihan sehari-hari yang tak pernah membosankan. “Boleh, gimana dengan kamu, mau nggak?” tanyaku kepada adik kembarku. “mau atuh aa’, kan lagi laper nih…” sembari salah satu dari mereka memegang perut dengan ekspresi wajah seperti orang kelaperan.

Tak terasa masa berlalu…aku terus tumbuh menjadi seorang anak yang perlahan tapi pasti mulai mengenal dunia. Rasa-rasanya kuingat sudah nasehat sahabatku mas Yangkur seorang penulis buku “Menemani Bidadari” asal Makassar ketika berkunjung ke Kendari. Pengalaman adalah jalan kita untuk semakin insyaf akan dunia yang fana ini” ungkapan ini terus mengalir dalam desiran darah hingga terasa ke urat nadiku. Karena ini pula, aku ingat persis bagaimana cerita keluarga kami pada tahun 1992, ayahku memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesinya sebagai prajurit TNI di kesatuan Pusat Pendidikan Polisi Militer (PUSDIKPOM). Ketika itu, ayahku lebih memilih berprofesi sebagai wiraswasta. “lebih enak mengembangkan usaha, daripada menjadi tentara” itulah kata yang terlontar dari lisan ayahku.

Meski ayahku tak lagi menjadi tentara, kehidupan keluarga kami malah semakin bagus dari tahun ke tahun. Usaha ayah sebagai agen penyedia selimut dan sajadah terus berkembang pesat di kota Bandung. Alhamdulillah pada tahun 1995, ketika itu aku memiliki seorang adik lagi, Siti Wulandari nama yang diberikan orangtuaku untuknya.

Beberapa bulan berselang, datanglah dua orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Ternyata belakangan kuketahui mereka adalah kakek dan paman dari ayahku. Mereka sengaja datang jauh-jauh dari tanah Sulawesi meminta kami agar mau pindah ke Sulawesi. “Ayo lebih baik pindah aja ke Sulawesi ngumpul sama bapak, ibu dan adik-adikmu disana…” itulah ajakan kakek kepada ayah yang sempat kudengar dibalik kamar. “Kami seneng banget bapak mau jauh-jauh datang kesini, mengenai ajakan bapak gimana kalau kami timbang-timbang dulu” kata ayahku kemudian. “ ya cobalah kalian pertimbangkan ajakan bapak ini matang-matang” saran kakekku bijak.

Keesokan harinya, udara pagi dingin nan lembut menelusuk tulang. Mentari di ufuk timur perlahan muncul menggantikan sang ratu malam. Kicau burung sayup-sayup terdengar di dahan pohon mahoni tak jauh dari rumahku. Nampaknya para tetangga pun tengah asyik melakukan sederet aktivitas pagi. Kulihat ayah, kakek dan paman sedang mengobrol di ruang tengah sambil menikmati teh hangat buatan ibuku tercinta. Kulihat sikembar sedang main-main di kamar mereka. Ibu sibuk mengurus adik perempuanku yang masih bayi. Kebetulan hari itu adalah hari minggu, tentu aku tak pergi ke sekolah seperti hari-hari biasanya. Tiba-tiba aku teringat ajakan sahabat karibku Uya untuk bermain bersama. Kuhampiri ibu meminta izin, “Ma’ boleh nggak anto mau main sama Uya sekarang?” pintaku pada ibu. “ Ya, boleh atuh… tapi sebelum main bersih-bersih dulu, jangan-jangan kamu belum cuci muka lagi…” kata ibuku bercanda. “Sudah ma…menggosok gigi juga udah, nih buktinya” aku menimpali sambil memperlihatkan deretan gigiku polos saja. “ Pasti kamu belum sarapan, kan?” Tanya ibu kemudian. “Oh…iya anto hampir lupa!” balasku refleks.

Tak lama kemudian, kulangkahkan kaki menuju rumah Uya yang memang tidak jauh dari rumahku. “Assalamu’alaikum!” aku memberi salam sembari ku ketuk pintu rumah Uya. Sejurus tak ada jawaban dari dalam rumah, kemana mereka pikirku. “Uya jeng ema-bapana’ angkat ka kebon, nto!”* terkejut aku ketika tetangga sebelah rumah memberitahu kalau Uya dan ibu serta ayahnya pergi ke kebun mereka. “Nuhun nya bi’ punten abdi bade nyusul Uya”* aku mengucapkan terima kasih dan langsung pamitan.

Sekitar tiga menit kemudian, sampailah aku di kebun Mulya Kosasih sahabat karibku. Sesaat kucari-cari dia, lalu aku berhasil melihat mereka sedang mengumpulkan sesuatu. Entah apa karena jarakku lumayan jauh dengan mereka, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka sedang kumpulkan. Sambil berlari-lari kecil kudekati mereka. “Assalamu’alaikum, Uya keur naon?*” aku beri salam dan langsung bertanya. “Wa’alaikum salam. Eh maneh Nto’! urang keur mantuan bapa jeng ema ngala hui yeh…*” Jawabnya sambil memperlihatkan beberapa ubi jalar yang baru saja di panen. Sedikit perkenalan tentang siapa Mulya Kosasih. Dia adalah sahabat karibku, amat berbeda dengan keadaan keluargaku, keluarga mereka tergolong keluarga miskin. Tinggal di sebuah rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Pekerjaan ayahnya buruh, ibunya tidak memiliki kerjaan sampingan. Uya memiliki beberapa saudara yang sebagian besar masih kecil-kecil seumuran dengan adik kembarku. Kalau kubayangkan lagi, kehidupan mereka sungguh memprihatinkan. Hati kita akan luluh, air mata tak terasa membasahi pipi. Kening pun sedikit berkerut mengikuti gerakan kesedihan yang mereka alami. Tapi aku sangat senang berteman dengan Uya, karena ia adalah anak yang baik, keluarganya juga sayang kepadaku dan menganggap aku sebagai bagian dari keluarga mereka.


अकू

Kisahku diantara cerut merut kehidupan

Bagian 1

Sabtu di pagi hari yang tentram. Hatiku bicara tentang kesadaran… ya! Sadar diri ini akan arti hidup dan kehidupan. Baru saja tubuhku sedikit basah terkena terpaan rintik hujan saat kukembali dari Haluoleo sebuah universitas terbesar di Bumi Anoa Sulawesi Tenggara. Disinilah aku sekarang menimba ilmu dengan harap kelak keberhasilan menyapaku di pagi hari…

Udara yang dingin terus menusuk pori dan kalbu. Kupandangi langit yang masih berkabut, dengan tiba-tiba hatiku rindu, perasaan bergeming, akal sehat bersemangat menerawang menuju masa laluku nan jauh disana… Ya Pasundan! Tanah kelahiranku.

Kira-kira 13 tahun lalu, masa kecil yang sungguh amat menggugah hidup. Aku terlahir dalam keluarga menjanjikan masa depan. Ayah berprofesi sebagai prajurit TNI AD, lalu ibu bekerja di sebuah perusahaan konveksi yakni bergerak di bidang produksi pakaian tepatnya di Kota Bandung. Dalam kondisi keluarga seperti ini, tentu hampir bisa dipastikan semua keinginanku dapat terpenuhi. Tak terbayang sedikitpun di masa kecil dulu kalau suatu ketika aku akan pergi jauh dari tanah kelahiranku menuju Sulawesi tempat kami kini mengarungi samudera kehidupan. Bahkan saat aku sekolah dulu di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Falah Cimahi belum pernah kutilik letak dan rupa Sulawesi meski hanya sebatas peta. Mungkin ini juga salah satu kekuranganku…

“Masa kecil yang menyenangkan!” pikirku tiba-tiba. Sejak shubuh hari biasanya ibuku sudah bangun, menyiapkan sarapan pagi bagi kami sekeluarga. Saat itu yang kuingat kami tinggal berenam, selain ayah, ibu dan dua orang adik kembarku, kami bersama kakek yang kini telah meninggalkan kami lebih dulu, sedangkan nenekku tinggal sendirian di kecamatan lain, namun masih se-kota. “Anto, ayo bangun dulu, nanti kesiangan shalat shubuhnya!” demikianlah kata-kata indah yang selalu kudengar dari seorang ibu yang teramat sayang kepadaku. Segera aku bangkit dan bergegas mengambil air wudhu, kemudian shalat shubuh. Maklum ayah dan ibuku termasuk orang yang terus menempaku dengan pendidikan agama sedari kecil. “Alhamdulillah…” aku bahagia sekali rasanya dengan senyum simpul menghiasi wajahku bila teringat kisah ini.

Setelah sarapan pagi, kuraih tangan ayah dan ibu lalu kumeminta izin kepada mereka untuk berangkat ke sekolah. Hampir setiap kali aku hendak ke sekolah, kusempatkan diri untuk menemui sahabat karibku, Mulya Kosasih namanya agar bisa berangkat sama-sama. “ Uya, hayu angkat ka sakola bareng nya.…*” ajakku dengan dialek Sunda. Dengan gagah nan bersemangat, kami melangkah bersama ruang waktu, tas dipunggung, pikiran kami tertuju pada bayangan cita-cita bila besar nanti…

Jalan di gang kami adalah penghubung antara tempat tinggal dengan sekolah. Seingatku setiap kami berangkat ke sekolah ada sebuah tantangan melewati kompleks pekuburan umum, dasar memang kami anak-anak penakut, ketika itu kami selalu kompak disegala hal. “ Nto…Yuk lumpat wae, urang sien euy, maneh kumaha?”* Tanya Uya kepadaku. “Urang ngge sien pisan… hayu atuh lumpat, hiji…dua…tilu!”*jawabku sembari memberi aba-aba langkah seribu. Huh… ketawa aku jika kuingat-ingat lagi bagian ini.

Tak berapa lama berselang sampailah kami didepan pagar sekolah, hampir bersamaan pula bel apel pagi tiba-tiba berbunyi. Buru-buru kami masuk kelas menyimpan tas dan bergabung dengan teman-teman lain di barisan siswa Madrasah Ibtidaiyah, di bagian lain tampak rapi barisan siswa Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah. Maklum sekolah kami adalah swasta dan bernaung dibawah yayasan Nurul Falah.

Setelah itu, bel masuk berbunyi kami berhamburan mirip sebuah perlombaan masuk ke kelas masing-masing. Tak lama kemudian, guru kami datang Bu Nani namanya. Beliau selalu menjadi motivator dan pemberi inspirasi terbaik bagi kami setiap hari. Hal yang tak pernah kulupakan hingga saat ini adalah keteladanan beliau dalam mengajar. Orang yang sangat sabar, ramah dan selalu tersenyum saat kami melakukan sedikit saja kesalahan. Nasehat-nasehatnya menyejukkan, kami sejurus terdiam saat untaian kata mengalir dari lisannya yang bijak. “Anak-anakku sekalian, di dunia ini yang paling indah adalah mengejar cita-cita kita dengan senang hati, ikhlas, bersemangat, dan pantang menyerah dengan warna syukur kepada Allah Subhanallahu Wata’ala” Ungkapan inilah yang hingga kini masih membekas dalam ingatanku. (sepenggal cerita tentang asa “Thariq Abdullah al-‘ilmi”, bersambung…)

Bagian 2

“Adakah asa yang dapat membawaku kembali bersua dengan kisah hidupku di masa lalu…?” demikianlah sebuah pertanyaan kecil yang tergerak dalam hatiku kini. Alunan ayat Al-Qur’an yang kudengar terus membawaku kembali bercerita tentang detak dan detik waktu yang terlewati laksana aliran air di telaga harapan. Masih kuingat jelas, aku saat itu adalah anak manja yang selalu minta ini dan itu kepada ayah dan bundaku. Setiap akhir pekan ibu mengajakku dan kedua adik kembarku jalan-jalan. Kadang kala ke tempat wisata seperti kebun binatang, berkles atau seringnya ke games center. Pokoknya keceriaan selalu membersamaiku. Ibu biasanya menuntun kami bertiga, menjadi teman bermain, bercanda dalam suka dan duka. “Nto, gimana kalau kita makan bubur dulu, yuk!” kata ibuku suatu ketika. Bagi kami warga metro Bandung, kuliner adalah pilihan sehari-hari yang tak pernah membosankan. “Boleh, gimana dengan kamu, mau nggak?” tanyaku kepada adik kembarku. “mau atuh aa’, kan lagi laper nih…” sembari salah satu dari mereka memegang perut dengan ekspresi wajah seperti orang kelaperan.

Tak terasa masa berlalu…aku terus tumbuh menjadi seorang anak yang perlahan tapi pasti mulai mengenal dunia. Rasa-rasanya kuingat sudah nasehat sahabatku mas Yangkur seorang penulis buku “Menemani Bidadari” asal Makassar ketika berkunjung ke Kendari. Pengalaman adalah jalan kita untuk semakin insyaf akan dunia yang fana ini” ungkapan ini terus mengalir dalam desiran darah hingga terasa ke urat nadiku. Karena ini pula, aku ingat persis bagaimana cerita keluarga kami pada tahun 1992, ayahku memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesinya sebagai prajurit TNI di kesatuan Pusat Pendidikan Polisi Militer (PUSDIKPOM). Ketika itu, ayahku lebih memilih berprofesi sebagai wiraswasta. “lebih enak mengembangkan usaha, daripada menjadi tentara” itulah kata yang terlontar dari lisan ayahku.

Meski ayahku tak lagi menjadi tentara, kehidupan keluarga kami malah semakin bagus dari tahun ke tahun. Usaha ayah sebagai agen penyedia selimut dan sajadah terus berkembang pesat di kota Bandung. Alhamdulillah pada tahun 1995, ketika itu aku memiliki seorang adik lagi, Siti Wulandari nama yang diberikan orangtuaku untuknya.

Beberapa bulan berselang, datanglah dua orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Ternyata belakangan kuketahui mereka adalah kakek dan paman dari ayahku. Mereka sengaja datang jauh-jauh dari tanah Sulawesi meminta kami agar mau pindah ke Sulawesi. “Ayo lebih baik pindah aja ke Sulawesi ngumpul sama bapak, ibu dan adik-adikmu disana…” itulah ajakan kakek kepada ayah yang sempat kudengar dibalik kamar. “Kami seneng banget bapak mau jauh-jauh datang kesini, mengenai ajakan bapak gimana kalau kami timbang-timbang dulu” kata ayahku kemudian. “ ya cobalah kalian pertimbangkan ajakan bapak ini matang-matang” saran kakekku bijak.

Keesokan harinya, udara pagi dingin nan lembut menelusuk tulang. Mentari di ufuk timur perlahan muncul menggantikan sang ratu malam. Kicau burung sayup-sayup terdengar di dahan pohon mahoni tak jauh dari rumahku. Nampaknya para tetangga pun tengah asyik melakukan sederet aktivitas pagi. Kulihat ayah, kakek dan paman sedang mengobrol di ruang tengah sambil menikmati teh hangat buatan ibuku tercinta. Kulihat sikembar sedang main-main di kamar mereka. Ibu sibuk mengurus adik perempuanku yang masih bayi. Kebetulan hari itu adalah hari minggu, tentu aku tak pergi ke sekolah seperti hari-hari biasanya. Tiba-tiba aku teringat ajakan sahabat karibku Uya untuk bermain bersama. Kuhampiri ibu meminta izin, “Ma’ boleh nggak anto mau main sama Uya sekarang?” pintaku pada ibu. “ Ya, boleh atuh… tapi sebelum main bersih-bersih dulu, jangan-jangan kamu belum cuci muka lagi…” kata ibuku bercanda. “Sudah ma…menggosok gigi juga udah, nih buktinya” aku menimpali sambil memperlihatkan deretan gigiku polos saja. “ Pasti kamu belum sarapan, kan?” Tanya ibu kemudian. “Oh…iya anto hampir lupa!” balasku refleks.

Tak lama kemudian, kulangkahkan kaki menuju rumah Uya yang memang tidak jauh dari rumahku. “Assalamu’alaikum!” aku memberi salam sembari ku ketuk pintu rumah Uya. Sejurus tak ada jawaban dari dalam rumah, kemana mereka pikirku. “Uya jeng ema-bapana’ angkat ka kebon, nto!”* terkejut aku ketika tetangga sebelah rumah memberitahu kalau Uya dan ibu serta ayahnya pergi ke kebun mereka. “Nuhun nya bi’ punten abdi bade nyusul Uya”* aku mengucapkan terima kasih dan langsung pamitan.

Sekitar tiga menit kemudian, sampailah aku di kebun Mulya Kosasih sahabat karibku. Sesaat kucari-cari dia, lalu aku berhasil melihat mereka sedang mengumpulkan sesuatu. Entah apa karena jarakku lumayan jauh dengan mereka, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka sedang kumpulkan. Sambil berlari-lari kecil kudekati mereka. “Assalamu’alaikum, Uya keur naon?*” aku beri salam dan langsung bertanya. “Wa’alaikum salam. Eh maneh Nto’! urang keur mantuan bapa jeng ema ngala hui yeh…*” Jawabnya sambil memperlihatkan beberapa ubi jalar yang baru saja di panen. Sedikit perkenalan tentang siapa Mulya Kosasih. Dia adalah sahabat karibku, amat berbeda dengan keadaan keluargaku, keluarga mereka tergolong keluarga miskin. Tinggal di sebuah rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Pekerjaan ayahnya buruh, ibunya tidak memiliki kerjaan sampingan. Uya memiliki beberapa saudara yang sebagian besar masih kecil-kecil seumuran dengan adik kembarku. Kalau kubayangkan lagi, kehidupan mereka sungguh memprihatinkan. Hati kita akan luluh, air mata tak terasa membasahi pipi. Kening pun sedikit berkerut mengikuti gerakan kesedihan yang mereka alami. Tapi aku sangat senang berteman dengan Uya, karena ia adalah anak yang baik, keluarganya juga sayang kepadaku dan menganggap aku sebagai bagian dari keluarga mereka.


अलिफ़ अल syahban

केतिका अकू हरुस bermimpi


Alhamdulillahirrabbil’alamin… segala puji hanyalah milik Allah SWT, Sang pemberi kehidupan yang penuh akan nikmat ini. Salam dan salawat semoga tetap tercurah kepada nabi kita Muhammad SAW, sosok manusia yang pantas diteladani dalam setiap detik waktu yang diberikan-Nya kepada kita sekalian.

Gimana kabarnya adik-adik sekarang? Semoga Allah Azza wajalla tetap memberikan kesehatan dan kemudahan kepada adik-adik dalam mengarungi samudera hari yang berlenterakan tantangan ini. First of all, welcome to Teaching and Educational Faculty Haluoeleo University. Fakultas terbesar di kampus ini yang menyimpan sejuta harapan mahasiswa untuk meraih kesuksesan.

Sukses? Apa sebenarnya sukses itu? Sukses bagi seorang mahasiswa adalah mampu mencapai cita-cita dengan melejitkan seluruh potensi dan kompetensi yang dimilikinya, memenuhi semua harapan pribadi, orang tua, dan orang-orang yang memberi support kepadanya. Oleh karena itu, kita harus punya motivasi yang besar disertai sikap optimis menghadapi setiap tantangan baru. Ingat bagaimana seorang bijak dalam menyikapi Succes Planing: ”Optimis adalah satu langkah menuju kesuksesan”. Nah... sudah saatnya kita ucapkan good bye untuk rasa pesimis, ketidak-percayaan diri, miskin kreativitas dan paradigma berfikir yang selalu terbelakang, tapi cobalah untuk bangkit! Melangkah! Berlari! dan menggapai cita-cita! dengan motivasi: ”Think Globally, Act Locally”.

Wahai... generasi penerus harapan bangsa. Jangan biarkan kemalasan dan kebodohan kita menjadi beban bagi orang lain, bangsa hingga ummat ini. Apakah kita tidak malu kepada para pejuang, pahlawan bangsa dan agama ini yang telah mendahului kita bahwa ternyata manusia abad 21 adalah ”generasi cengeng” dan tidak mampu bersaing. Ingat bagaimana Bung Tomo, seorang pahlawan muslim Indonesia yang begitu gigih dizamannya untuk berjuang. Ia adalah inspirasi bagi orang lain tetapi santun dihadapan Allah SWT. Ketika berjuang... ia tak sungkan untuk meneriakan takbir ”Allahu Akbar!!!”. Lalu pertanyaannya sekarang bagaimana dengan kita?

Saudaraku... sudah saatnya kita mengukir prestasi di hari ini dan masa depan. Mulailah dengan perencanaan diri sejak dini karena ”gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan”. Didepan kita... entah apa tantangan yang akan menghadang. Namun yang jelas yang terbaik adalah kita lebih siap untuk menyongsongnya. Hiasilah wajah hidup kita dengan ”sejuta prestasi”, maknai hidup ini dengan ”Iman dan Takwa” dan songsong hidup ini dengan ”keberanian” karena berani sebenarnya adalah ”nekad yang bertanggung jawab” betul-tidak?

Sahabat... hari kemarin adalah masa lalu kita, pantang untuk kita meratapinya. Hari esok adalah masa depan kita, pantang untuk kita menunggunya. Hari ini, saat kita duduk, berbincang dan beraktivitas lainnya adalah kehidupan kita. Mari berkarya dengan semangat prestasi dunia dan akhirat. Selamat mencoba! Semoga sukses!! Ma’annajjah...Allahu akbar!!! Wallahu’alam bisshowwab...

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bagian 4

Bisikan Hati

Sungguh hari ini aku terserang rasa kantuk yang berat. Sehabis shalat shubuh, tak sanggup aku menahan kantukku. Aku berbaring di kamarku, tapi sepertinya ada sebuah perasaan dan cita yang berontak kepadaku. Lalu memintaku untuk segera bangun, apa ya? Pikirku. Tak lama kemudian aku berpindah dari kamar menuju ruang tamu, juga berbaring di kursi sofa. Tiba-tiba aku tersadar, aku harus segera bersiap mengikuti kompetisi karya tulis mahasiswa tingkat Unhalu 2009. tak kuhiraukan lagi rasa kantuk. “aku harus semangat…Allahu akbar!” seruku dalam hati.

Aku harus terus berkarya, mengejar cita-cita, harus kutunjukkan kepada dunia bahwa generasi muda muslim itu bisa berprestasi. Tak peduli atas kemiskinan dan penderitaan yang juga kurasakan kini, mungkin sebagian rekan-rekanku yang lain juga merasakannya. Sungguh sahabat… energi keimanan dan keislaman telah merubahku menjadi mahasiswa yang harus optimis dan percaya diri menghadapi seluruh tantangan hidup ini apapun kondisinya. Walaupun ayah, bunda dan keluargaku yang lain jauh disana…di kampung halaman. Adik kembarku juga sama bermimpi bersama detak dan detik waktu mengejar cita. Alhamdulillah ya Allah…Engkau anugerahi aku keluarga dan sahabat yang selalu memberikan spirit untuk mengarungi samudera kehidupan yang fana ini. Kutahu mereka sayang padaku dan aku harus sukses! Harus!!

Kang Abik, penulis buku “Ayat-Ayat Cinta” ketika datang ke Kendari pernah bilang kepadaku dan dua rekanku “teruslah mencoba! Perkaya diri dengan membaca dan menulis, tapi ingat sabar dan ikhlas karena Allah adalah kuncinya”. Sahabat…tahukah betapa semangatnya aku hari itu menghadapi kompetisi. Sampai-sampai ketika pake sepatu pun “obsesi punya pengalaman baru” terus berbicara dalam pikir dan perasaanku. Kudekati motorku, kuletakkan map beserta isinya di jepitan motor. Kuperbaiki jaket yang belum teratur di badanku. Kutengok kaca spion, kuperbaiki rambut ikal pemberian Sang Pencipta ini. Namun tiba-tiba mapku melayang jatuh, sejurus aku terkejut, “mati mi!”. isi mapku berserakan di tanah termasuk karya tulis yang sedikit kotor terkena tanah. “Alhamdulillah nggak apa-apa” pikirku sambil kubersihkan tanah yang menempel.

Dalam perjalanan menuju Haluoleo, kampus dimana sejuta harapan mahasiswa sepertiku belajar, pikiran, imajinasi dan asa terus berbicara ditemani waktu yang hanya 24 jam sehari ini. Sesampainya di Rektorat, kusapa rekan se-timku “Assalamualaikum! Gimana udah mulai?. Ia menjawab “Belum, lagian pembukaannya jam 9”. Sambil berlalu aku berucap “kalau gitu, saya duluan ke atas ya”.

Beberapa menit berselang pembukaan dimulai. Lalu kami dipersilakan menuju ruangan sesuai bidang kompetisi masing-masing. Aku segera mengumpulkan rekan-rekan tim FKIP, “kita adalah tim, mari kita tunjukkan bahwa FKIP bisa berhasil dalam kompetisi ini. Jangan lupa saling mendoakan, okey!”. Saat itu aku optimis bahwa rekan-rekan dapat menunjukan yang terbaik dalam ajang ini.

Kami mendapat giliran tampil urutan ketiga dibelakang dua sahabatku yang juga dari FKIP. Entah kenapa hatiku berdebar-debar saat itu, mungkin peserta lain pun merasakan hal yang sama. Presentasi pun dimulai, dewan juri memberi kami waktu 5 menit, aku jadi operator sedang temanku presentasi. 5 menit berlalu, presentasi usai, giliran sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama bisa kami jawab dan mendapat apresiasi yang baik dari dewan juri.

Allah subhnahu wata’ala sungguh maha besar. Dia memberikan cinta-Nya kepada kami melalui kumandang adzan yang tiba-tiba kami dengar dari musholla rektorat. Sejuk sekali rasanya qolbu ini, memberi energi semangat kepada kami, “Harus Bisa!!!” itulah slogan yang terlintas dibenakku. “Laailaahaillallaah… “ inilah energi besar yang semestinya terus kita ingat dimana dan sampai kapan pun. Saudaraku… momen hidup ini sungguh begitu berarti bagi kita. Jangan pernah sia-siakan walau itu hanya sedetik…kemarin adalah masa lalu kita, jangan dan jangan terus meratapi masa lalu. Esok adalah masa depan dan impian, pantang bagiku termasuk engkau wahai saudaraku…menunggu masa depan. Wal khusus hari ini, kita masih hidup…disini…di dunia ini, tak maukah engkau wahai saudaraku ‘tuk saling menyapa, bahagia ketika bersua dan mengukir waktu dengan karya. Ya karya! Apa pun itu yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat Islam terutama mahasiswa kampus hijau FKIP Unhalu.

Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan, menghakimi, bahkan mencaci. Tapi mengingatkan dengan warna cinta-Nya layak dipertahankan pada kondisi kita sekarang ini. Aku optimis wahai saudara… engkau pasti bisa berbuat yang terbaik untuk dakwah Islam ini. Ustadz Fauzil Adzhim pun meyapa kita dihari ini “Jadikanlah masalah sebagai tantangan, bukan sebagai hambatan, betul-tidak?”. Bersemangatlah kawan! keluh kesah sungguh tak berguna…camkanlah: “engkau adalah mujahid dan mujahidah muda harapan Islam! Aktivis Dakwah Kampus adalah profesi mulia kita saat ini dan sampai kapanpun”. Insyaallah…wallahu ‘alam.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pembarinagnku

Balai kota tiga indah

No 14 ujung lorong buntu

diLarut malam selasa 23 June 2009

kendari kotaKu bertaQwah

Demi senyum Abahku,….penderitaanPun serasa suraga

Karma pesan UmiKu……hanya sukses yang bisa membuatku kembali

Dan…………………

Membuktikan kalau apa yang pernah mereka ucapkan itu

Sama sekali tidak benar

sesuatu yang hilang


Sungguh hari ini aku terserang rasa kantuk yang berat. Sehabis shalat shubuh, tak sanggup aku menahan kantukku. Aku berbaring di kamarku, tapi sepertinya ada sebuah perasaan dan cita yang berontak kepadaku. Lalu memintaku untuk segera bangun, apa ya? Pikirku. Tak lama kemudian aku berpindah dari kamar menuju ruang tamu, juga berbaring di kursi sofa. Tiba-tiba aku tersadar, aku harus segera bersiap mengikuti kompetisi karya tulis mahasiswa tingkat Unhalu 2009. tak kuhiraukan lagi rasa kantuk. “aku harus semangat…Allahu akbar!” seruku dalam hati.

Aku harus terus berkarya, mengejar cita-cita, harus kutunjukkan kepada dunia bahwa generasi muda muslim itu bisa berprestasi. Tak peduli atas kemiskinan dan penderitaan yang juga kurasakan kini, mungkin sebagian rekan-rekanku yang lain juga merasakannya. Sungguh sahabat… energi keimanan dan keislaman telah merubahku menjadi mahasiswa yang harus optimis dan percaya diri menghadapi seluruh tantangan hidup ini apapun kondisinya. Walaupun ayah, bunda dan keluargaku yang lain jauh disana…di kampung halaman. Adik kembarku juga sama bermimpi bersama detak dan detik waktu mengejar cita. Alhamdulillah ya Allah…Engkau anugerahi aku keluarga dan sahabat yang selalu memberikan spirit untuk mengarungi samudera kehidupan yang fana ini. Kutahu mereka sayang padaku dan aku harus sukses! Harus!!

Kang Abik, penulis buku “Ayat-Ayat Cinta” ketika datang ke Kendari pernah bilang kepadaku dan dua rekanku “teruslah mencoba! Perkaya diri dengan membaca dan menulis, tapi ingat sabar dan ikhlas karena Allah adalah kuncinya”. Sahabat…tahukah betapa semangatnya aku hari itu menghadapi kompetisi. Sampai-sampai ketika pake sepatu pun “obsesi punya pengalaman baru” terus berbicara dalam pikir dan perasaanku. Kudekati motorku, kuletakkan map beserta isinya di jepitan motor. Kuperbaiki jaket yang belum teratur di badanku. Kutengok kaca spion, kuperbaiki rambut ikal pemberian Sang Pencipta ini. Namun tiba-tiba mapku melayang jatuh, sejurus aku terkejut, “mati mi!”. isi mapku berserakan di tanah termasuk karya tulis yang sedikit kotor terkena tanah. “Alhamdulillah nggak apa-apa” pikirku sambil kubersihkan tanah yang menempel.

Dalam perjalanan menuju Haluoleo, kampus dimana sejuta harapan mahasiswa sepertiku belajar, pikiran, imajinasi dan asa terus berbicara ditemani waktu yang hanya 24 jam sehari ini. Sesampainya di Rektorat, kusapa rekan se-timku “Assalamualaikum! Gimana udah mulai?. Ia menjawab “Belum, lagian pembukaannya jam 9”. Sambil berlalu aku berucap “kalau gitu, saya duluan ke atas ya”.

Beberapa menit berselang pembukaan dimulai. Lalu kami dipersilakan menuju ruangan sesuai bidang kompetisi masing-masing. Aku segera mengumpulkan rekan-rekan tim FKIP, “kita adalah tim, mari kita tunjukkan bahwa FKIP bisa berhasil dalam kompetisi ini. Jangan lupa saling mendoakan, okey!”. Saat itu aku optimis bahwa rekan-rekan dapat menunjukan yang terbaik dalam ajang ini.

Kami mendapat giliran tampil urutan ketiga dibelakang dua sahabatku yang juga dari FKIP. Entah kenapa hatiku berdebar-debar saat itu, mungkin peserta lain pun merasakan hal yang sama. Presentasi pun dimulai, dewan juri memberi kami waktu 5 menit, aku jadi operator sedang temanku presentasi. 5 menit berlalu, presentasi usai, giliran sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama bisa kami jawab dan mendapat apresiasi yang baik dari dewan juri.

Allah subhnahu wata’ala sungguh maha besar. Dia memberikan cinta-Nya kepada kami melalui kumandang adzan yang tiba-tiba kami dengar dari musholla rektorat. Sejuk sekali rasanya qolbu ini, memberi energi semangat kepada kami, “Harus Bisa!!!” itulah slogan yang terlintas dibenakku. “Laailaahaillallaah… “ inilah energi besar yang semestinya terus kita ingat dimana dan sampai kapan pun. Saudaraku… momen hidup ini sungguh begitu berarti bagi kita. Jangan pernah sia-siakan walau itu hanya sedetik…kemarin adalah masa lalu kita, jangan dan jangan terus meratapi masa lalu. Esok adalah masa depan dan impian, pantang bagiku termasuk engkau wahai saudaraku…menunggu masa depan. Wal khusus hari ini, kita masih hidup…disini…di dunia ini, tak maukah engkau wahai saudaraku ‘tuk saling menyapa, bahagia ketika bersua dan mengukir waktu dengan karya. Ya karya! Apa pun itu yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat Islam terutama mahasiswa kampus hijau FKIP Unhalu.

Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan, menghakimi, bahkan mencaci. Tapi mengingatkan dengan warna cinta-Nya layak dipertahankan pada kondisi kita sekarang ini. Aku optimis wahai saudara… engkau pasti bisa berbuat yang terbaik untuk dakwah Islam ini. Ustadz Fauzil Adzhim pun meyapa kita dihari ini “Jadikanlah masalah sebagai tantangan, bukan sebagai hambatan, betul-tidak?”. Bersemangatlah kawan! keluh kesah sungguh tak berguna…camkanlah: “engkau adalah mujahid dan mujahidah muda harapan Islam! Aktivis Dakwah Kampus adalah profesi mulia kita saat ini dan sampai kapanpun”. Insyaallah…wallahu ‘alam.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rumah pelangi,

Rabu 6 Mei 2009

Salam hangat dariku,


alif al syahban

mahasiswa FISIP Unhalu