Mengenai Saya

Senin, 22 Juni 2009

केतिका दिया


Bagian 2

“Adakah asa yang dapat membawaku kembali bersua dengan kisah hidupku di masa lalu…?” demikianlah sebuah pertanyaan kecil yang tergerak dalam hatiku kini. Alunan ayat Al-Qur’an yang kudengar terus membawaku kembali bercerita tentang detak dan detik waktu yang terlewati laksana aliran air di telaga harapan. Masih kuingat jelas, aku saat itu adalah anak manja yang selalu minta ini dan itu kepada ayah dan bundaku. Setiap akhir pekan ibu mengajakku dan kedua adik kembarku jalan-jalan. Kadang kala ke tempat wisata seperti kebun binatang, berkles atau seringnya ke games center. Pokoknya keceriaan selalu membersamaiku. Ibu biasanya menuntun kami bertiga, menjadi teman bermain, bercanda dalam suka dan duka. “Nto, gimana kalau kita makan bubur dulu, yuk!” kata ibuku suatu ketika. Bagi kami warga metro Bandung, kuliner adalah pilihan sehari-hari yang tak pernah membosankan. “Boleh, gimana dengan kamu, mau nggak?” tanyaku kepada adik kembarku. “mau atuh aa’, kan lagi laper nih…” sembari salah satu dari mereka memegang perut dengan ekspresi wajah seperti orang kelaperan.

Tak terasa masa berlalu…aku terus tumbuh menjadi seorang anak yang perlahan tapi pasti mulai mengenal dunia. Rasa-rasanya kuingat sudah nasehat sahabatku mas Yangkur seorang penulis buku “Menemani Bidadari” asal Makassar ketika berkunjung ke Kendari. Pengalaman adalah jalan kita untuk semakin insyaf akan dunia yang fana ini” ungkapan ini terus mengalir dalam desiran darah hingga terasa ke urat nadiku. Karena ini pula, aku ingat persis bagaimana cerita keluarga kami pada tahun 1992, ayahku memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesinya sebagai prajurit TNI di kesatuan Pusat Pendidikan Polisi Militer (PUSDIKPOM). Ketika itu, ayahku lebih memilih berprofesi sebagai wiraswasta. “lebih enak mengembangkan usaha, daripada menjadi tentara” itulah kata yang terlontar dari lisan ayahku.

Meski ayahku tak lagi menjadi tentara, kehidupan keluarga kami malah semakin bagus dari tahun ke tahun. Usaha ayah sebagai agen penyedia selimut dan sajadah terus berkembang pesat di kota Bandung. Alhamdulillah pada tahun 1995, ketika itu aku memiliki seorang adik lagi, Siti Wulandari nama yang diberikan orangtuaku untuknya.

Beberapa bulan berselang, datanglah dua orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Ternyata belakangan kuketahui mereka adalah kakek dan paman dari ayahku. Mereka sengaja datang jauh-jauh dari tanah Sulawesi meminta kami agar mau pindah ke Sulawesi. “Ayo lebih baik pindah aja ke Sulawesi ngumpul sama bapak, ibu dan adik-adikmu disana…” itulah ajakan kakek kepada ayah yang sempat kudengar dibalik kamar. “Kami seneng banget bapak mau jauh-jauh datang kesini, mengenai ajakan bapak gimana kalau kami timbang-timbang dulu” kata ayahku kemudian. “ ya cobalah kalian pertimbangkan ajakan bapak ini matang-matang” saran kakekku bijak.

Keesokan harinya, udara pagi dingin nan lembut menelusuk tulang. Mentari di ufuk timur perlahan muncul menggantikan sang ratu malam. Kicau burung sayup-sayup terdengar di dahan pohon mahoni tak jauh dari rumahku. Nampaknya para tetangga pun tengah asyik melakukan sederet aktivitas pagi. Kulihat ayah, kakek dan paman sedang mengobrol di ruang tengah sambil menikmati teh hangat buatan ibuku tercinta. Kulihat sikembar sedang main-main di kamar mereka. Ibu sibuk mengurus adik perempuanku yang masih bayi. Kebetulan hari itu adalah hari minggu, tentu aku tak pergi ke sekolah seperti hari-hari biasanya. Tiba-tiba aku teringat ajakan sahabat karibku Uya untuk bermain bersama. Kuhampiri ibu meminta izin, “Ma’ boleh nggak anto mau main sama Uya sekarang?” pintaku pada ibu. “ Ya, boleh atuh… tapi sebelum main bersih-bersih dulu, jangan-jangan kamu belum cuci muka lagi…” kata ibuku bercanda. “Sudah ma…menggosok gigi juga udah, nih buktinya” aku menimpali sambil memperlihatkan deretan gigiku polos saja. “ Pasti kamu belum sarapan, kan?” Tanya ibu kemudian. “Oh…iya anto hampir lupa!” balasku refleks.

Tak lama kemudian, kulangkahkan kaki menuju rumah Uya yang memang tidak jauh dari rumahku. “Assalamu’alaikum!” aku memberi salam sembari ku ketuk pintu rumah Uya. Sejurus tak ada jawaban dari dalam rumah, kemana mereka pikirku. “Uya jeng ema-bapana’ angkat ka kebon, nto!”* terkejut aku ketika tetangga sebelah rumah memberitahu kalau Uya dan ibu serta ayahnya pergi ke kebun mereka. “Nuhun nya bi’ punten abdi bade nyusul Uya”* aku mengucapkan terima kasih dan langsung pamitan.

Sekitar tiga menit kemudian, sampailah aku di kebun Mulya Kosasih sahabat karibku. Sesaat kucari-cari dia, lalu aku berhasil melihat mereka sedang mengumpulkan sesuatu. Entah apa karena jarakku lumayan jauh dengan mereka, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka sedang kumpulkan. Sambil berlari-lari kecil kudekati mereka. “Assalamu’alaikum, Uya keur naon?*” aku beri salam dan langsung bertanya. “Wa’alaikum salam. Eh maneh Nto’! urang keur mantuan bapa jeng ema ngala hui yeh…*” Jawabnya sambil memperlihatkan beberapa ubi jalar yang baru saja di panen. Sedikit perkenalan tentang siapa Mulya Kosasih. Dia adalah sahabat karibku, amat berbeda dengan keadaan keluargaku, keluarga mereka tergolong keluarga miskin. Tinggal di sebuah rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Pekerjaan ayahnya buruh, ibunya tidak memiliki kerjaan sampingan. Uya memiliki beberapa saudara yang sebagian besar masih kecil-kecil seumuran dengan adik kembarku. Kalau kubayangkan lagi, kehidupan mereka sungguh memprihatinkan. Hati kita akan luluh, air mata tak terasa membasahi pipi. Kening pun sedikit berkerut mengikuti gerakan kesedihan yang mereka alami. Tapi aku sangat senang berteman dengan Uya, karena ia adalah anak yang baik, keluarganya juga sayang kepadaku dan menganggap aku sebagai bagian dari keluarga mereka.


1 komentar:

  1. KUNJUNGAN PERTAMA. TERIMAKASIH ATAS KERJASAMANYA, BUNG. OH YA. SALAM BUAT ANAK-ANAK IPMAH DI SANA JUG AWARGA ASAL BULUKUMBA. OH, ANDA LIVE YA. TERIMAKASIH.KALO ANDA INGIN KIRIM BERITA KE RCA. SILAHKAN SAJA VIA EMAIL cempakaasrifm@yahoo.co.id atau fax 0413-81554 SMS 081355337910. Thanks.

    BalasHapus