malam-malam panjang tak berbintang
kian kelam di atas jalan
saat awan gelap membayang
yang kuharapkan hanya rembulan kan segera datang
...
Bocah kecil itu hanya termangu di atas dipan. Jari-jemarinya yang mungil cekatan menulis sesuatu di atas buku yang nampak usang. Mulutnya terkatup rapat. Matanya terpicing seolah memaksa otaknya ...tuk cepat berpikir. Lesung pipitnya seolah hilang ditengah temaramnya malam. Baim, alias Ibrahim hanya seorang anak laki-laki kelas tiga sekolah dasar. Telah menjadi yatim sejak ia berada di dalam kandungan ibunya. Ibunya yang sehari-hari dipanggil Emak, pernah bercerita bahwa saat mengandung dirinya, kondisi negara sedang kalut. Semua harga melambung tinggi. BBM naik. Sembako naik. Ongkos angkot naik. Harga susu pun melonjak naik. Pokoknya semua harga naik. Hanya satu yang tidak akan pernah naik, yaitu hujan. Ya, itulah rahmat Tuhan yang banyak diingkari insan. Hingga saking tidak bersyukurnya insan, rahmat itu pun berubah menjadi 'azab'. Rintik hujan sekonyong-konyong menjadi banjir bandang. Sekali waktu Baim pernah protes kepada Emak, kenapa saat itu negara menjadi kalut justru saat Emak mengandung dirinya. Bukankah itu sangat menyulitkan Emak?
Emak hanya menanggapi dengan dingin. Katanya, "kau mesti banyak-banyak bersyukur. Meski saat itu negara sedang kalut, toh Emak masih bisa melahirkan kamu dengan sehat dan selamat. Banyak ibu-ibu di luar sana tatkala mengandung harus berjibaku saat kondisi negerinya justru lebih parah dari negeri kita. Ibu-ibu itu mungkin bisa melahirkan tapi tanpa perawatan yang memadai. Bisa melahirkan tapi kemudian anaknya harus menjadi cacat seumur hidup. Ada juga ibu-ibu di sana yang sudah menjadii janda itu, harus keguguran saking tak kuatnya menahan beban. Beban sebagai ibu, istri dan beban dari kondisi negeri yang sedang kacau balau akibat peperangan. Bahkan banyak dari mereka yang harus kehilangan nyawa, menghadapi satu dari dua pilihan, entah anaknya atau dirinya yang selamat, atau mungkin keduanya atau justru sebaliknya. Sedangkan kau, selamat sentosa lahir ke dunia meski sebatas mengandalkan perawat dan dukun beranak. Tak ada desing peluru. Tak ada roket-roket berjatuhan. Tak ada banjir bandang, angin ribut dan bukan di barak-barak pengungsian. Kau terlahir di sebuah gubuk di tepian rel kereta api. Tapi gubuk itulah surgamu. Surga kita semua. Terlindung dari hujan dan sengatan matahari. Masihkah kau menggugat lagi?"
Baim membisu. Diakuinya meski Emak hanya lulusan sekolah rakyat namun tekadnya untuk membesarkan anak-anaknya jauh meninggi melampaui bintang tertinggi. Emak yang sederhana. Emak yang bersahaja. Emak yang sedari kecil hidup prihatin namun meluncur dari lisannya kata-kata bijak bestari. Baim sangat sayang pada Emak. Dilihatnya wajah Emak yang mulai berkerut, namun tak kunjung lelah menghidupi anak-anaknya yang lima orang. Ah, Baim merasa beruntung memiliki Emak.
...
Sesekali tangannya terkepal ke langit. Meninju. Seolah melepas kegalauan yang ada di dalam hatinya. Ia ingin membahagiakan Emak. Membahagiakan kakak dan adik-adiknya. Membahagiakan semua ibu yang sederhana seperti Emak.
Dicermatinya sekali lagi syair yang tertulis di buku usang itu. Tersenyum simpul sendiri. Tulisannya mirip cakar ayam. Tapi ia bangga, karena bisa mempersembahkan sesuatu untuk Emak tercinta. Baru sekali. Ya, baru sekali itu ia menulis syair. Istimewa. Karena memang tak ada yang diharapkan bagi Baim kecuali hanya sunggingan senyum manis dari Emak tercinta. Dan kalimat, "Emak bangga punya anak laki-laki seperti Baim"
Ah, rembulan itu seakan hadir di pelupuk mata Baim. Sangat jelas. Sangat terang bahkan. Menghalau awan dan kabut yang menyelimuti malam. Indah sekali.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar